GEMBONG–Banyak warga di sekitar Desa Wonosekar yang memproduksi
keripik pisang maupun ketela, salah satunya Jumilatun (43) dia sudah sekitar
lima tahunan menggeluti usaha tersebut. Menurutnya, membuat keripik sangat
membantu penghasilan per hari, keripik pisang yang dibuatnya biasanya dipesan
tetangganya maupun tetangga desa.
Bahan–bahan yang dibutuhkan untuk membuat keripik tidaklah sulit, antara lain: pisang byar, tales, dan ketela sebagai bahan utama sedangkan gula, balado atau rempah sebagai perasa. Cara memotongnya cukup mudah tidak memerlukan waktu yang lama hanya dengan menggunakan pisau duduk. Setelah bahan keripik dipotong-potong kemudian dicuci lalu digoreng dengan tingkat kepanasan yang stabil. Jumilatun masih menggunakan kompor kompor tradisional (pawon) dan kayu sebagai bahan bakar. Adapun trik tersendiri dalam menabur perasa yaitu pisang digoreng setengah matang kemudian perasanya ditaburkan, selanjutnya tunggu beberapa menit hingga tingkat warna kematangan pas, sampai rasanya gurih dan renyah.
Dalam sekali penggorengan, Jumilatun mampu mencapai 2-5 kg per hari,
dalam memasarkan produknya Jumilatun hanya menerima pesanan dari orang-orang
yang memiliki hajat (Yasinan, Tahlilan, maupun acara keluarga
lainnya). “Untuk kemasan besar berisi
satu kilogram yang dibanderol dengan harga Rp40.000,00 sedangkan untuk
kemasan 0,5 kg dibanderol dengan harga Rp20.000,00, untuk kemasan-kemasan
lainnya Jumilatun mengikuti pesanan
konsumen,” ujarnya. (Cholid, Dul, dan Fifi)
Reporter: Cholid, Dul, dan Fifi
Editor: Tarom dan Zulfian


