Industri Rumah “Tusuk Sate” sebagai Penggerak Perekonomian Masyarakat Desa Tanggel, Winong

Industri Rumah “Tusuk Sate” sebagai Penggerak Perekonomian Masyarakat Desa Tanggel, Winong

KABAR TERMA
Senin, 22 Agustus 2022



Photo by: Kru Terma 


Tusuk sate merupakan salah satu usaha yang digeluti masyarakat Desa Tanggel, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Pemanfaatan hasil sumber daya alam berupa bambu yang memang banyak tumbuh di desa ini, dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin oleh penggerak usaha di Desa Tanggel ini.


Salah satu pemilik industri tusuk sate adalah Darwati (40), ia adalah masyarakat Desa Tanggel yang telah memulai usaha tusuk sate sejak tahun 2017. Darwati menjelaskan bahwa pembuatan tusuk sate tidaklah begitu rumit, bahan bakunya hanyalah bambu, akan tetapi tidak semua bambu dapat dijadikan tusuk sate. Ia memilih menggunakan bambu jenis ori saja yang dapat diolah untuk mendapatkan hasil dengan kualitas yang baik. Bambu kemudian dipotong tipis dan pendek sesuai dengan ukuran yang ditentukan. Setelah bambu dipotong-potong lalu dijemur di bawah terik matahari sekitar dua jam. Karena membutuhkan sinar matahari, tentunya hal ini menjadi tantangan jika musim hujan datang. 


Setelah itu, Darwati memperlihatkan proses produksi tusuk satenya di halaman rumahnya. Di sana tampak pekerja yang sedang mengolah hasil potongan bambu dengan sebuah mesin maupun manual. “Setelah proses penjemuran selesai, bambu-bambu yang telah dipotong tersebut akan diserut menggunakan mesin, hal ini berguna agar tusuk sate menjadi mulus dan tidak berserabut,” jelasnya. Setelah mulus, tusuk sate siap dikemas. Tusuk sate yang telah dikemas biasanya dibawa oleh pembeli, bahkan ada yang dijemput sendiri oleh pengepul.


“Duka pertama kali produksi hanya bermodalkan Rp300.000,00, itu hanya bisa membuat 1000 tusuk per hari. Itupun jualnya menawarkan ke rumah-rumah. Tapi sukanya ketika masuk bulan Ruwah sampai bulan Haji penjualannya meningkat sangat drastis, bahkan sampai menolak permintaan pesanan dari pengepul,” kata ibu berusia 40 tahun itu.


Perlu diketahui, istilah tusuk sate sangat melekat oleh warga sekitar. Meskipun begitu, kenyataannya tusuk sate ini tidaklah seluruhnya digunakan untuk jualan sate. Selain sebagai untuk tusukan sate, tusuk bambu ini juga digunakan untuk jualan pentol bakso, tempura, sempolan, dan lain sebagainya. Karena beragamnya penggunaan dari tusuk bambu ini, maka varian ukuran dari tusuk ini beragam pula. Untuk ukuran sangatlah beragam, mulai dari panjangnya dan juga diameternya. Misalnya saja untuk tusuk sate, tusuk pentol, dan tusuk sempolan memiliki panjang yang berbeda-beda. Yang paling pendek biasanya untuk tusuk pentol dan yang paling panjang itu biasanya untuk tusuk sempolan. Selain panjang, tusuk dari bambu ini juga memiliki ragam pada diameternya, misalnya saja penggunaan utuk sate ayam dan sate kambing yang memilki diameter yang berbeda.


Saat ini usaha yang dikembangkan Darwati sudah berkembang, bahkan sampai saudara dan tetangga juga ikut membantu. Setiap harinya usaha tusuk sate ini sudah berhasil memproduksi sekitar 10.000 tusuk sate dan 5000-6000 tusuk sempolan. Untuk harganya yaitu Rp1.200,00 per ikat, yang berisi 100 tusuk. Omzet yang didapatkan dari penjualan tusuk bambu mencapai 1,5 juta rupiah setiap bulan, kalau penjualannya ramai bisa mencapai 3 juta rupiah per bulan. Tentunya usaha milik Darwati ini sangat layak diberikan apresiasi karena dapat menjadi penggerak perekonomian masyarakat desa. Terlebih lagi usaha ini sangat memanfaatkan hasil alam dan memotivasi masyarakat sekitar dalam usaha pembuatan tusuk sate.


Reporter: Luqman, Mu'thi, Rouf

Editor: Farid dan Ael