Photo by: Kru Terma
Kripik Tempe merupakan salah satu jajanan yang dapat menjadi camilan untuk menemani di saat santai. Dengan cita rasa yang khas dan tampilan yang sederhana, menjadikan kripik tempe di cari banyak orang serta mampu bertahan di saat persaingan camilan-camilan modern sekarang ini.
Saat menyantap kripik tempe tidak perlu risau, karena jajanan ini tidak mengandung zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan tubuh. Proses pembuatan jajanan yang satu ini pun terbilang cukup mudah. Tempe di potong tipis-tipis, lalu di masukkan ke dalam adonan tepung yang sudah di campur dengan bumbu dan diproses dalam tungku penggorengan yang menggunakan kayu bakar.
Penggorengan dilakukan hingga warna kripik tempe berubah menjadi kekuningan. Setelah itu di tiriskan agar minyak pada kripik tempe berkurang dan kripik menjadi krispi saat di makan.
Ratih, perempuan berusia lima puluh tahun, membuat kripik tempe yang beralamat di Desa Tanggel RT/RW 08/01, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, telah menjalankan usahanya sejak tahun 1985 dan tetap eksis sampai sekarang. Dalam proses pembuatan kripik tempe, Ratih di bantu dua karyawan. Satu bungkus kripik tempe berisi 10 biji dengan harga kisaran Rp. 5000 per bungkus dan dijual secara ecer. Selain itu, ia juga menerima pesanan dalam partai besar.
Keuntungan rata-rata yang di peroleh Ratih yakni sekitar Rp. 150.000 dengan statistik keuntungan saat pesanan kripik tempe sedang ramai.
“Pesanan pas bulan-bulan tertentu, misalnya bulan Syawal, Dzulqo’dah (Apit), dan pesanan sepi ketika bulan Muharrom (Suro) di karenakan pada bulan suro tidak ada kegiatan walimahan yang di adakan oleh warga” (21/8/2022).
Kendala yang di hadapi Ratih dalam usahanya di bidang jajanan kripik tempe yaitu ketika harga bahan produksi mengalami kenaikan, maka harga kripik tempenya juga mengalami kenaikan harga. Saat awal berjualan Ratih mematok harga Rp. 2500 dan mengalami kenaikan harga menjadi Rp. 5000 perbungkus di karenakan harga bahan produksi mengalami kenaikan.
Kripik tempe
Ratih ini masih eksis dalam
menghadapi gempuran zaman modern, dikarenakan selain kripiknya yang krispi juga
di karenakan sudah ada pembeli yang berlangganan memesan dan mengambil produk
kripik tempe dari tempat Ratih. (Zulfian, Anam)
