Photo by: Siska (Kru Magang)
PATI – Di Kecamatan Pati, tepatnya di Desa Sinoman RT 04 RW 02, terdapat sebuah lokasi yang dianggap sebagai punden. Warga setempat biasa menyebutnya dengan Punden Mbah Buyut Loko Joyo, (06/03/2022).
Kusyaibi (70) selaku juru kunci punden, menjelaskan bahwa Mbah Buyut Loko Joyo merupakan pendiri dari Desa Sinoman. Nama Sinoman sendiri diambil dari kata sinom yang artinya orang yang punya gawe. Diceritakan bahwa yang membuat desa tersebut ada 4 orang yakni Mbah Loko Joyo, Mbah Sauban, Mbah Ramidi, dan Mbah Kukusrahman. Mbah Sauban sendiri merupakan saudara dari Mbah Loko Joyo, sedangkan yang lainnya merupakan anak dari Mbah Loko Joyo. “Ya memang semuanya bertempat di sini, makamnya dijadikan satu di dalam pagar ini. Untuk berdirinya belum diketahui secara jelas, karena memang dari juru kunci sebelumnya juga belum bisa memastikan kapan berdirinya desa ini, tetapi ada juga sesepuh disini yang menyebutkan berdirinya sekitar abad ke-14," ungkapnya.
Hampir setiap hari banyak peziarah datang ke punden pada malam hari, ada yang dari Jambi, Cilacap, Kudus, Runting, Pati Kota, dan lain-lain. Kebanyakan para peziarah yang datang mempunyai niat atau keinginan, seperti mau membuka usaha, merantau, membangun rumah, dan mau menikah. "Banyak keinginan dari peziarah yang berhasil terwujud setelah sowan atau ziarah ke punden. Bukan berarti meminta langsung kepada Mbah Loko Joyo, jelas hal tersebut dikatakan musyrik. Meminta segala sesuatu tetap kepada Allah, tetapi melalui perantara Mbah Lokojoyo," ujar Kusyaibi.
Beragam kejadian mistis pernah terjadi di punden tersebut. Sudah menjadi sebuah aturan tata krama atau unggah-ungguh punden, misalnya jika melewati jalan tersebut, diusahakan jangan menghina penghuni tempat tersebut atau mengumpat, serta diusahakan setiap lewat jalan itu, harus membunyikan klakson satu kali agar tidak terjadi sesuatu yang merugikan diri sendiri.
"Pernah ada kejadian, orang dari Desa Ngemplak yang tengah lewat menggunakan Motor Viar tiba-tiba terperosok ke sawah, setelah ditanya oleh warga setempat, ternyata ia tidak sengaja mengucap kata-kata yang tidak benar atau gersah (dalan kok elik e ngene leh). Ada juga yang naik sepeda tidak sengaja misuh, seketika langsung ban rodanya bocor, terus ada lagi yang dibuat bingung serasa bolak-balik lewat lokasi punden tersebut, padahal niatnya ingin pulang ke rumah, lalu setelah ditanya seorang warga, ternyata ia gersah (sambat) gara-gara lewat jalan yang rusak,” tutur Kusyaibi.
“Setiap tahunnya juga diadakan haul dan biasanya kerap diramaikan dengan pentas seni ketoprak maupun wayang, tapi selama pandemi kemarin hanya ditahlilkan dengan tetap mematuhi prokes," imbuhnya. Di halaman makam, terdapat petilasan Mbah Loko Joyo, yakni pohon aren yang menurut cerita, Mbah Loko Joyo sering memanjati pohon tersebut. Kusyaibi selaku juru kunci yang sudah menjabat selama tiga tahun berharap ke Pemerintah Desa, agar halaman pagar sekitar makam dibangun dan ditata rapi.
Reporter: Siska
Editor: Niswah dan Diah
