“Tiket masuk untuk camping yaitu 10 ribu per orang, dan parkirnya 3 ribu per motor. Kalau bagi pengunjung yang tidak camping dikenakan biaya masuk 3 ribu dan parkir 2 ribu per motor,” ujar Handriani Susilowati, salah satu admin yang bertugas di Bukit Kayangan saat itu.
Objek wisata yang dikelola oleh BUMDes Baburrohmah, Desa Klakahkasihan ini menyajikan panorama alam yang indah, ada banyak macam tanaman dan bunga yang menghiasi area bukit itu. Di sana terdapat beberapa spot foto yang menarik, gazebo yang bisa ditempati untuk menikmati daerah pegunungan dan juga anak tangga yang tertata rapi dihiasi cat warna-warni dengan gambar. Tempat itu pun dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan tempat ibadah yang bersih.
Di depan mereka disuguhkan pemandangan nan elok. Mereka bisa melihat pepohonan rindang, seperti pohon petai, pohon pamelo, pohon rambutan dan pohon lainnya, meskipun saat itu diselimuti kabut tipis. Dari sana mereka juga bisa melihat Waduk Gunung Rowo dan Waduk Seloromo.
Dengan penuh semangat, kru LPM Terma mendirikan tiga tenda secara bergotong-royong, dibantu oleh pengelola Bukit Kayangan. Tak lupa juga karpet dan matras dibentangkan di dalam tenda. Hujan yang masih mengguyur tak menyurutkan niat untuk mempersiapkan acara makrab kali ini.
“Kalau sewa tenda di sini harganya 40 ribu, dan untuk per orang yang menginap membayar 10 ribu itu sekaligus fasilitas air dan lampu. Untuk matrasnya per lembarnya 5 ribu,” ungkap Siswanto, sebagai seksi perlengkapan Bukit Kayangan.
Rintik hujan mulai mereda mereka pun berkumpul untuk mengikuti acara pembukaan dan diskusi. Sebanyak 20 orang berdiskusi dengan beralaskan tikar di depan tenda. Pimpinan umum LPM Terma, Roziqin, membuka acara dengan ucapan basmalah kemudian dilanjut pimpinan redaktur, Farid, mengisi acara dengan menyebutkan tugas masing-masing divisi dan reporter.
Roni Setiawan selaku PU terdahulu membantu untuk menjelaskan tugas yang disebutkan pimpinan redaktur yang telah sah terpilih pada acara Musang kemarin 16 Januari 2022. Kemudian memasuki sesi acara ketiga yang diisi materi mengenai Rencana Tindak Lanjut (RTL) dan membahas kelanjutan dari pelatihan jurnalistik tingkat dasar, melihat sampai batas mana kemampuan para reporter yang telah memiliki mentor masing-masing.
“Teman-teman harus mengumpulkan tugas-tugas RTL untuk membuktikan layak dan berhak mendapatkan sertifikat PJTD guna melanjutkan proses ke PJTL,” ucap Roni ketika mengisi acara tersebut.
Selepas magrib, mereka menyewa layar proyektor dari pengelola Kayangan. Layar tersebut mereka gunakan untuk memutar video jurnalistik berjudul Spotlight yang berdurasi 2 jam 9 menit. Mereka dengan seksama menikmati film tersebut ditemani makanan ringan dan kopi hitam. Di lain sisi juga terlihat beberapa kru perempuan LPM Terma yang menikmati mie instan. Makanan itu ditiup perlahan-lahan dan mengeluarkan kepulan asap, yang membuat siapa pun menyukainya ketika dinikmati di tengah suasana hujan yang cukup deras sambil mengamati film yang diputar.
Akhirnya film pun selesai dilanjut dengan mendiskusikan film tersebut dan dikaitkan dengan beberapa kasus yang terjadi di Indonesia, diskusi kala itu di pimpin oleh Roni dan Zunan. “Cukup melelahkan ya kasus yang terjadi di film itu, saya melihat sosok Max seperti pemeran Hulk yang di Avenger,” ucap Roni sambil tertawa mengawali diskusi.
Sempat terjadi perdebatan antara Zunan dan Tika (peserta makrab) bahwa kasus itu juga bisa dikaitkan dengan kasus pencabulan santriwati oleh pengasuh pesantren yang terjadi di Bandung. Mereka mendebatkan hukum nikah mut’ah dan melihat beberapa sikap media kala itu. Lalu Purnomo selaku mantan pimred juga menghimbau untuk teman-teman jurnalis agar lebih berani bertindak apabila terjadi kesalahan dan meluruskan sesuatu yang keliru.
“Kita sebagai jurnalis bertugas memberikan informasi sesuai dengan fakta dan data yang ada di lapangan, harus berani melawan mereka-mereka yang berbuat salah dan berdalih membenarkan perbuatannya,” tuturnya menengahi perdebatan kala itu.
Diskusi film pun selesai, acara dilanjutkan dengan pembahasan usulan progam kerja Terma, acara tersebut langsung dipimpin oleh Rozikin dan Pimrednya Farid. Mereka membahas progres Terma, agar lebih baik maka dimintalah peserta makrab untuk mengajukan ide-ide kreatifnya. “Untuk para mentor berita agar lebih serius lagi memperhatikan hasil dari tulisan reporter yang akan di unggah di media LPM Terma,” tegas Farid ketika menangapi beberapa usulan peserta makrab.
Waktu menunjukkan pukul 12 malam, hujan mulai mereda, para kru Terma bahu-membahu membagi tugas. Ada yang asyik memasak mie, sosis, naget, ketela dan nasi. Di depan tenda sebagian kru Terma dengan seriusnya membakar kayu untuk api unggun, dikarenakan kayu sedikit basah jadi kayu tersebut susah untuk menyala. Selepas itu, makanan yang sudah matang kemudian disajikan dengan beralaskan daun pisang, lalu mereka pun makan bersama-sama. Perut pun sudah terisi, para kru mulai memasuki tendanya untuk tidur. Mereka tampak begitu lelap karena seharian melakukan aktivitas yang padat.
Azan subuh mulai berkumandang di sekitar Kayangan. Di saat pukul lima pagi terdengar orang mengaji Al Qur’an yang bersahut- sahutan dari bawah bukit dan membuat suasana dingin menjadi tentram. Terlihat langit semakin mengeluarkan cahaya merah kemerahan yang merekah. Tampak ada salah satu kru Terma mengabadikan sunrise tersebut dengan kamera handphone miliknya di salah satu panggung spot foto.
Saat pukul 7 pagi, mereka bergegas membongkar tenda-tendanya serta menggulung beberapa matras dan tikar secara gotong royong. Setelah itu mereka beranjak pulang ke rumah masing-masing. Akan tetapi ada 10 kru Terma yang masih di dalam lokasi Kayangan. Mereka berinisiatif untuk mendatangi sungai Ngebrak yang masuk dalam kawasan PTPN IX Jolong. Mereka mulai menuju lokasi tersebut, setelah melewati pintu masuk Jolong satu, mereka menuruni jalan setapak dengan sepeda motor.
Jalan yang dilalui bergelombang, berbatu dan becek. Hal itu tak mematahkan ambisi mereka untuk ke sana. Mereka secara berhati-hati memacu sepeda motornya dengan pelan, sebab sepanjang jalan tersebut permukaan jalannya terjal dan dikelilingi pohon rimbun juga jurang tepat berada di sebelah jalan yang mereka lalui.
“Membuat lengan saya terasa pegal, karena harus bisa mengontrol antara rem kanan dan kiri. Apalagi motor yang saya bawa matic dan juga saya harus menyeimbangkan setir agar tidak oleng ke jurang. Tetapi semua itu terbayarkan setelah saya dan tim tiba di lokasi,’’ ucap Zulfian salah satu kru LPM Terma sembari memandangi air sungai yang mengalir.
Terdengar suara percikan air yang cukup deras. Mereka pun segera memarkirkan motornya dan bergegas ingin menyeburkan dirinya ke dalam sungai. Tampak dari atas, sungai itu memiliki bebatuan besar dan kecil, dilalui oleh aliran air yang amat deras dan jernih. Mereka pun segera turun ke sungai untuk menyusuri aliran sungai dan memilih area yang dirasa pas untuk berenang. Salah satu kru menemukan dua aliran sungai yang terpisah, sehingga memilih lokasi tersebut untuk berenang. Tampak riang sekali mereka menikmati air sungai yang dingin dan jernih. Mereka saling menciprati satu sama lain dengan air sungai. Sungai yang diapit oleh pepohonan liar nan rimbun dan bongkahan batu besar menambah suasana asri sungai tersebut.
Dua jam lamanya mereka menghabiskan waktu di sungai. Mereka pun naik ke atas untuk mengganti baju yang mereka gunakan untuk berenang. Di gubuk tua tepat sebelah jembatan, tampak ada 2 kru LPM Terma yang sedang sibuk memasak nasi, mie, telur dan segelas kopi panas. Dengan menggunakan kompor kecil dan bahan makanan seadanya mereka bisa membuat beberapa makanan dan minuman, kemudian kru lainya mencari daun pisang untuk dijadikan alas makanan yang dimasak tadi. Setelah semua siap, mereka pun bersama-sama menikmati makanan tersebut dengan lahap.
Waktu menunjukkan pukul sebelas, mereka bersiap melanjutkan perjalanan untuk pulang dan sepakat untuk melintasi jalan yang beda dari saat pergi. Kemudian mereka memacu sepeda motor dengan berhati-hati, karena jalan yang dilewati lebih ekstrim dari yang tadi. Jalannya setapak dan naik turun, ditambah amat licin karena digenangi air yang mengalir dari salah satu pipa warga yang bocor. Mereka pun sempat tersesat, sampai-sampai memasuki kawasan hutan dan lahan perkebunan warga. Akses jalan sudah tidak menyenangkan, ditambah sinyal dari gawai tidak ada hingga tidak bisa menggunakan google maps.
“Saat perjalanan pulang kami melewati medan yang lebih ekstrim lagi di bandingkan jalan yang kami lalui saat berangkat bahkan kami sempat tersesat di hutan. Ada salah satu anggota kami sampai tergelincir jatuh, untungnya tidak sampai masuk jurang,” tutur Zulfian saat menceritakan kembali mengenai apa yang dia alami.
Setelah lama menunggu, tampak ada seorang bapak-bapak, yang mengendarai motor dengan mengangkut sebongkah kayu. Kemudian dengan berbaik hati bapak itu mau mengantar mereka untuk keluar dari area hutan menuju wilayah desa Geger, Klakahkasihan, Gembong. Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai di pemukiman warga Desa Geger. Mereka pun kembali ke Kabupaten Pati untuk beristirahat di Jurnal Coffee dan setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing.
Reporter: Rozikin
Editor: Roni

