JUWANA – Tampak sederet perahu nelayan tengah parkir di pinggiran Sungai Silungonggo, yang bermuara di Laut Juwana. Desa Kedungpancing, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, memiliki julukan, yakni kampung nelayan. Karena, desa yang berada di sebelah timur Sungai Silungonggo itu, mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan, (Jum'at, 11/02/2022).
Pagi-pagi buta sekitar pukul 03.00 WIB, nelayan Silungonggo sudah mulai melaut. Jangan sampai mereka didahului oleh sengatan terik matahari dan gulungan ombak pasang, yang mana akan memengaruhi hasil tangkapan mereka. Panorama Sungai Silungoggo hingga ke Pulau Seprapat dengan deburan ombak sungguh indah. Nelayan berbondong-bondong mendorong perahu dibantu dengan mesin guna mengerahkan perahu ke perairan. “Cara menangkap ikan menggunakan jaring yang cukup lebar. Dengan jaring itu, kumpulan ikan dikepung kemudian dikurung saat jaring ditebar secara memutar. Misalnya di sini perahu, terus di sana ada kumpulan ikan, lalu ujung jaring yang ada timahnya, dilepas ke laut untuk pemberat, lalu perahunya tinggal berputar mengelilingi area tersebut, jadi dikurung ikannya,” ujar salah satu nelayan yang tengah menyiapkan jaringnya.
Bagi para nelayan, menjaring ikan merupakan salah satu cara untuk mengais rezeki dari laut. Tidak harus bergantung nasib untuk bisa mendapatkan tangkapan ikan melimpah. Cuaca, gelombang laut yang kuat, sampai jaring tersangkut menjadi tantangan tersendiri di kala mencari ikan.
Hal senada juga dialami oleh nelayan Cantrang, Kecamatan Juwana. Musim angin barat menyebabkan beberapa nelayan dan Anak Buah Kapal (ABK) jarang melaut. Akibat cuaca buruk seperti yang terjadi di akhir akhir ini, sebagian nelayan lebih memilih untuk memperbaiki alat tangkap ikan dan kapalnya. Sebagian lagi masih ada yang memberanikan diri untuk berangkat melaut. Hanya saja, hasil tangkapan yang didapat mengalami penurunan akibat waktu ketika melautnya diperpendek.
Seperti halnya yang dialami oleh Suba’i (43). Ia mengaku sudah menggeluti profesi tersebut sejak tahun 1992. Bagi nelayan, kegiatan mencari ikan di laut sangat bergantung pada cuaca. Jika cuaca mendukung, hampir setiap hari para nelayan berangkat melaut guna menjaring ikan. “Kendalanya sih di gelombang laut, karena jarak dari sini sampai ke tempat ikan lumayan jauh, yakni sekitar 10 kilometer. Kadang juga terhambat oleh hujan deras dan angin,” tandasnya.
Ketika para nelayan mencari nafkah di tengah laut, para istri biasa menunggu hasil tangkapan sembari bersih-bersih rumah, memasak, serta menjual ikan hasil tangkapan. Bahkan ada juga yang bekerja di warung-warung jajanan di sekitar sungai. Terkadang hasil penjualan ikan hanya cukup untuk makan harian keluarga, sehingga tidak menjangkau kebutuhan lainnya. “Meski sepanjang hari mencari ikan di tengah laut, kadang-kadang hasil yang didapat belum seberapa. Beberapa kendala tentunya tidak membuat kami berkecil hati, kami tetap semangat berapa pun ikan yang didapat. Ketika pulang, kami biasa menjual ikan hasil tangkapan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) atau di Pasar Ikan," tutur Suba'i.
“Kalau di musim penghujan begini ya saya tidak berani melaut mbak. Apalagi perahu saya ini tergolong kecil dibanding dengan yang lain yang ada di TPI. Jadi ya harus sabar,” tambahnya disela membetulkan tali untuk menarik jaring.
Reporter: Ellina
Editor: Zunan
