Mengenal Air Terjun Grenjengan Sewu

Mengenal Air Terjun Grenjengan Sewu

KABAR TERMA
Kamis, 27 Januari 2022


                             foto by:jrahi_sakpore


      Pati Bumi Mina Tani, di mana hiruk pikuk wilayahnya masih asri bermayoritas petani. Wisata alam nan elok pandang mata, dihias jejeran bunga sepanjang perjalanan menuju Desa Jrahi, Kecamatan Gunung Wungkal, Kabupaten Pati di atas pegunungan tinggi 700 mdpl. Jalan naik-turun yang sudah berlapis aspal ini adalah awal memasuki gerbang sebuah desa wisata Pancasila yang berisi suatu kerukunan umat beragama terjalin sempurna, hingga wisata alam yang tersuguhkan pemandangan air terjun. Wisata alam air terjun Grenjengan Sewu, sudah dikenal selama 15 tahun lebih, sejak antara tahun 2006 dan 2007.


     Jika kita mengedarkan pandangan pada objek wisata air terjunnya, ternyata ia hanya memiliki ketinggian berkisar kurang lebih tujuh sampai sepuluh meter. Ditinjau dari kedalaman airnya berkisar 50-60 cm di bawah tanah. Sekitarnya terdapat banyak sekali bebatuan besar yang mendominasi sampai pada tebing besar dan kokoh dan tentunya mempunyai nilai seni tersendiri.


Pepohonan besar di sana melambangkan suasana hutan yang masih asri. Namun pepohonan besar ini perlu dirapikan. Seperti pohon randu di sini, ketika buah randu jatuh dari pohonnya, kapuk-kapuk berserakan dan lingkungan sekitar air terjun kurang nyaman untuk dipandang. Rencananya, pohon randu tersebut akan diganti dengan pohon yang masih mempunyai nilai manfaat bagi masyarakat tanpa mengurangi atau merusak fungsinya sebagai bagian dari hutan.

Konon katanya di tempat ini ada aturan yang harus diperhatikan. Seperti peribahasa "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Wisatawan yang datang tidak boleh bersikap tidak sopan, berkata kasar apalagi berzina di area Grenjengan Sewu.


       Perjalanan menuju objek wisata Grenjengan Sewu, memerlukan waktu yang lumayan singkat, sekitar 15 menit dari Pendopo Jrahi. Perjalanan ini mungkin membuat Anda sedikit khawatir dan harus berhati-hati. Memang benar, akses jalan di sini alami dengan tanah dan bebatuan. Namun untuk mencapai ke tempat wisata Grenjengan Sewu harus berjalan kaki. Menyusuri jalan di pegunungan, melewati sawah, sungai kecil dengan bebatuan yang dilewati arus air menjadi teman saat perjalanan berlangsung. Maka dari itu saat musim penghujan, tidak tepat untuk berkunjung ke wisata ini karena kondisi jalan yang licin dan berbahaya.

    Keindahan air terjunnya tentu, dapat tergambar jauh berbeda pada saat musim hujan. Bagaimana tidak, rimbunan pepohonan, daun-daun liar, dan tanaman terlihat begitu segar terkena tetesan air hujan yang membasahi bumi. Hingga air yang tadinya tenang mengalir, menjadi bertambah debitnya. Meski begitu, wisata ini akan ditutup saat musim hujan, karena jalan yang dipijak dan tanjakan tanah ke air terjun cukup licin apalagi melewati bebatuan sekitarnya.

     Suparlan (57) selaku Ketua Pengelola Wisata Pancasila di Desa Jrahi, mengatakan bahwa air terjun Grenjengan Sewu masih belum dikelola dengan baik, karena akses jalan menuju air terjun belum dibangun tangga sebagaimana mestinya dan pada sisi tebing juga banyak tertutup oleh dedaunan liar. "Grenjengan Sewu ini akan dilakukan pembaruan pada lokasi jalan dan penambahan fasilitasnya agar lebih baik. Rencananya pengelolaan perbaikan tempat wisata tersebut membutuhkan dana sebesar seratus juta rupiah.  Untuk realisasi dan alokasi waktunya masih menunggu dana cair. Harapannya 15-20 tahun ke depan, masyarakat dapat memanfaatkan dan mengelola potensi wisata di daerah sehingga tempat wisata ini dapat bermanfaat sebagai mata pencaharian," tambahnya.


Reporter: Dhani

Editor: Roni