Menilik Asal-usul Kadipaten Pati Pesantenan

Menilik Asal-usul Kadipaten Pati Pesantenan

KABAR TERMA
Selasa, 18 Januari 2022

 

Pati, Kabarterma-(12/01) Situs Kemiri adalah peninggalan bersejarah Kadipaten (sebuah wilayah yang bertingkat di bawah kerajaan) Pati Pesantenan, yang merupakan cikal bakal dari Kabupaten Pati. Salah satu peninggalannya ialah Genuk Kemiri yang terletak di belakang Pendopo Petilasan Kadipaten Pati, tepatnya di Desa Sarirejo, Rt 02, Rw 01, Kecamatan Pati.


    Legiman (70), yakni juru kunci Genuk tersebut, menjelaskan bahwa dulunya sebelum 1292, Desa Sarirejo masih berbentuk hutan belantara. Kemudian setelah 1929, desa tersebut kedatangan Adipati Kembang Joyo, yang berencana ingin menebangi pohon-pohon di hutan tersebut dan nantinya akan didirikan sebuah Kadipaten. Setelah berdiri, kadipaten tersebut belum memiliki nama. “Saat itu, Adipati Kembang Joyo sedang jalan-jalan keliling desa menikmati udara segar, lalu bertemu pasangan suami istri yang bernama Yai Cekong dan Nyi Cekong, yang merupakan penjual dawet di Sarirejo. Dari sinilah nantinya nama Kadipaten Pati Pesantenan berasal,” ujarnya.


    “Waktu itu tempat jualan mereka sangat ramai hingga membuat Adipati penasaran dan bertanya pada mereka apa yang dijual serta apa saja bahannya. Yai Cekong dan Nyi Cekong pun menjawab bahwa mereka menjual dawet yang berbahan tepun pati dan santan. Dari situlah Adipati Kembang Joyo menamakan kadipatennya dengan nama Pati Pesantenan,” jelas Legiman.


       “Kemudian, Adipati tidak sengaja melihat Nyi Cekong sedang memasak, lalu ada sebuah bumbu yang jatuh dari genggamannya. Adipati pun bertanya apa yang jatuh. Nyai Cekong menjelaskan bahwa yang jatuh adalah bumbu kemiri. Lalu Adipati pun berinisiatif memberi nama desa tersebut dengan Desa Kemiri. Dan Genuk itu sendiri merupakan tempat berjualan pasangan suami istri tersebut,” lanjutnya.


    “Biasanya, orang yang sedang berziarah ke makam Adipati Kembang Joyo, terkadang juga melihat ke Genuk untuk melihat rezekinya. Kalau air di dalam Genuk tersebut terlihat banyak, bisa dikatakan orang yang melihatnya akan memiliki rezeki yang banyak. Adapun sebaliknya, tetapi itu semua kembali ke kepercayaan masing-masing,” ungkap salah satu juru kunci tersebut.


    Selama Legiman menjabat sebagai juru kunci, ia belum pernah melihat air di dalam Genuk tersebut habis. Tetapi, sewaktu ia masih kecil, kakeknya yang menjadi juru kunci menuturkan bahwa air di dalam Genuk tersebut tetap penuh, meskipun musim kemarau. “Terkadang sewaktu musim penghujan, air di Genuk malah bisa habis,” tandasnya.


    “Selain dari daerah Pati, juga banyak peziarah dari luar daerah. Ada yang dari Kudus, Jepara, Demak, Semarang, Purwodadi, Godong, dan masih banyak lagi. Kebanyakan mereka datang pada waktu 10 Suro, malam Jum’at, bahkan hari-hari biasa juga ada,” tutur Legiman.

    Selain genuk, ada peninggalan bersejarah lainnya, yakni dua pohon beringin yang terletak di depan pendopo Kadipaten dan dianggap sebagai gerbang Kadipaten. Ada juga pohon juwet berada di samping bangunan Genuk dan pohon serut yang berada di belakang pendopo. Legiman yang sudah 5 tahun menjadi juru kunci situs tersebut berharap, untuk ke depannya pemerintah bisa merenovasi tembok rumah genuk, yang menurutnya sudah sepantasnya direnovasi.


Reporter: Siska Sofia

Editor: Niswah