Pati, Kabarterma-(12/01) Situs Kemiri adalah peninggalan bersejarah Kadipaten
(sebuah wilayah yang bertingkat di bawah kerajaan) Pati Pesantenan, yang merupakan
cikal bakal dari Kabupaten Pati. Salah satu peninggalannya ialah Genuk Kemiri yang terletak di belakang Pendopo Petilasan Kadipaten Pati, tepatnya
di Desa Sarirejo, Rt 02, Rw 01, Kecamatan Pati.
Legiman (70), yakni juru kunci Genuk tersebut, menjelaskan
bahwa dulunya sebelum 1292, Desa Sarirejo masih berbentuk hutan belantara.
Kemudian setelah 1929, desa tersebut kedatangan Adipati Kembang Joyo,
yang berencana ingin menebangi pohon-pohon di hutan tersebut dan nantinya akan
didirikan sebuah Kadipaten. Setelah berdiri, kadipaten
tersebut belum memiliki nama. “Saat itu, Adipati Kembang Joyo sedang jalan-jalan keliling
desa menikmati udara segar, lalu bertemu pasangan suami istri yang bernama Yai Cekong
dan Nyi Cekong, yang merupakan penjual dawet di Sarirejo. Dari sinilah nantinya
nama Kadipaten Pati Pesantenan berasal,” ujarnya.
“Waktu itu tempat jualan mereka sangat ramai hingga membuat Adipati
penasaran dan bertanya pada mereka apa yang dijual serta apa saja bahannya. Yai
Cekong dan Nyi Cekong pun menjawab bahwa mereka menjual dawet yang berbahan
tepun pati dan santan. Dari situlah Adipati Kembang Joyo menamakan kadipatennya
dengan nama Pati Pesantenan,” jelas Legiman.
“Kemudian, Adipati tidak sengaja melihat Nyi Cekong sedang memasak, lalu ada sebuah bumbu yang jatuh dari genggamannya. Adipati pun
bertanya apa yang jatuh. Nyai Cekong menjelaskan bahwa yang jatuh adalah
bumbu kemiri. Lalu Adipati pun berinisiatif
memberi nama desa tersebut dengan Desa Kemiri. Dan Genuk itu sendiri merupakan tempat berjualan pasangan suami istri
tersebut,” lanjutnya.
“Biasanya, orang yang sedang berziarah ke makam Adipati
Kembang Joyo, terkadang juga melihat ke Genuk untuk
melihat rezekinya. Kalau air di dalam Genuk tersebut terlihat banyak, bisa dikatakan orang
yang melihatnya akan memiliki rezeki yang banyak. Adapun sebaliknya, tetapi itu semua kembali
ke kepercayaan masing-masing,” ungkap salah satu juru kunci tersebut.
Selama Legiman menjabat sebagai juru kunci, ia belum pernah
melihat air di dalam Genuk tersebut
habis. Tetapi, sewaktu ia masih kecil, kakeknya yang menjadi juru kunci menuturkan bahwa air di dalam Genuk tersebut tetap penuh, meskipun musim kemarau.
“Terkadang sewaktu musim penghujan, air di Genuk malah bisa habis,” tandasnya.
“Selain dari daerah Pati, juga banyak peziarah dari luar daerah. Ada yang dari Kudus, Jepara, Demak, Semarang, Purwodadi, Godong, dan masih banyak lagi. Kebanyakan mereka datang pada waktu 10 Suro, malam Jum’at, bahkan hari-hari biasa juga ada,” tutur Legiman.
Selain genuk, ada peninggalan bersejarah lainnya, yakni
dua pohon beringin yang terletak di depan pendopo Kadipaten dan dianggap sebagai gerbang Kadipaten. Ada juga pohon juwet
berada di samping
bangunan Genuk dan pohon serut yang berada di belakang pendopo. Legiman yang
sudah 5 tahun menjadi juru kunci situs tersebut berharap, untuk ke depannya
pemerintah bisa merenovasi tembok rumah genuk, yang menurutnya sudah sepantasnya direnovasi.
Reporter: Siska Sofia
Editor: Niswah


