Trangkil - Kenaikan harga minyak goreng yang tinggi meresahkan para produsen makanan, terutama yang melalui proses penggorengan. Hal tersebut dirasakan oleh Subaidah(41), salah satu pembuat kripik tempe rumahan di Desa Asempapan, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati. “Selama saya menekuni usaha kripik tempe ini, kurang lebih 13 tahunan. Baru kali ini saya merasakan harga minyak goreng yang melambung sangat tinggi,” ujar wanita tersebut di rumahnya (7/1).
Sejak didirikannya usaha kripik tempe di 2009, kenaikan harga minyak goreng tertinggi terjadi saat ini. “Biasanya harga minyak goreng sekitar Rp 9.000,- sampai 10.000,- per liter, paling-paling naik menjadi Rp 11.000,- per liter. Itu pun satu minggu kemudian biasanya harga sudah turun. Akan tetapi sekarang sudah mencapai harga Rp 19.000,- bahkan ada yang Rp 20.000,- per liternya,” tambahnya.
Wanita paruh baya itu, sampai saat ini belum mendapatkan solusi agar dapat memenuhi kebutuhan produksinya. Ia ingin sekali menaikkan harga kripik tempe buatannya. “Sementara ini saya lebih memilih mendapatkan untung yang sedikit, daripada konsumen lari ke pedagang kripik tempe yang lebih murah,” jelasnya.
Pembuat kripik tempe ini sangat berharap pemerintah dapat segera memberikan solusi atas masalah ini. “Harapannya semoga pemerintah bisa lebih membantu agar harga minyak goreng menjadi normal kembali,” imbuhnya.
Reporter: Ima
Editor: Tika

