![]() |
| Oleh: Roziqin |
Kabar Terma-Masih merebaknya virus corona di Indonesia, membuat aktivitas pembelajaran di perguruan tinggi masih tetap dilaksanakan secara online. Menyesuaikan situasi dan kondisi sebagaimana edaran Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Islam No. 697/03/2020 dan arahan Kopertais wilayah X Jawa Tengah, Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Pati (STAIP) mengeluarkan surat keputusan nomor 13 tahun 2020, Selasa (16/6/2020) tentang masa transisi dan pelaksanaan ujian akhir semester genap tahun akademik 2019/2020.
Salah satu keputusannya adalah dilaksanakannya Ujian Akhir Semester (UAS) genap 2019/2020 secara online. Hal tersebut menuai respon beragam dari para mahasiswa. “UAS online adalah upaya membantu pemerintah dalam mengurangi penyebaran covid-19. Mau tidak mau kita harus mengikuti himbauan pemerintah," ujar Zulfian, salah satu mahasiswa Prodi PAI.
“Tapi menurut saya, pembelajaran secara online itu sangat tidak efektif, berbeda dengan kegiatan belajar mengajar sebelum pandemi. Karena tidak semua mahasiswa memahami materi dari dosen, termasuk saya sendiri. Selain itu kemampuan teknologi dan ekonomi setiap mahasiswa tidaklah sama. Tidak semuanya memiliki fasilitas yang menunjang dalam pembelajaran online. Koneksi lemot, handphone yang tidak mumpuni, dan kuota yang mahal. Itu semua menjadi hambatan nyata saat ini,” imbuhnya.
Hal senada dituturkan Rizki, mahasiswa STAIP Prodi PAI. “Dalam keadaan seperti ini, dosen harus mengerti dan memahami mahasiswa. Sehingga saat UAS nanti, dosen memberikan waktu pengerjaan yang cukup lama kepada mahasiswa yang terkendala oleh sinyal," jelasnya saat diwawancarai kru Terma via whatsApp.
Sementara itu, Wakil Ketua (Waka) II Iffah Mardi yati menganggap bahwa tidak ada masalah mengenai UAS online. "UAS online maupun offline itu sebetulnya sama saja. Asal kita fokus dan paham apa yg dimaksud di dalam soal yang diajukan oleh dosen," tuturnya kepada kru Terma via WhatsApp.
Keputusan UAS online nampaknya bukan hanya menimbulkan kontra di kalangan mahasiswaa, buktinya masih ada yang pro terhadap kebijakan tersebut. Berbeda dengan Zulfian dan Rizki, Fahmi, Mahasiswa Syariah semester dua mengatakan, mulai dari awal diterapkannya kebijakan pembelajaran online sampai sekarang, mahasiswa telah mengimplementasikan perannya dengan baik dalam memanfaatkan IT yang ada. Pembelajaran online saya rasa lebih efisien dan hemat. Tapi tidak menutup kemungkinan masih ada mahasiswa yang terkendala oleh sinyal.
Menanggapi respon dari beberapa mahasiswa, Abdul Azis selaku Waka I menjelaskan bahwa pembelajaran daring dan bahkan UAS online adalah bagian dari upaya membantu pemerintah dalam mengurangi bahkan menghentikan penyebaran virus corona. Ia juga mengatakan tentang kurang maksimalnya pembelajaran daring lebih karena alat komunikasi dan perangkatnya yang belum maksimal, entah handphone yang kurang support maupun terkendalanya sinyal, terutama bagi mahasiswa yang tinggal di daerah dengan jaringan yang buruk.
“Sementara itu, pembelajaran daring tidak mengurangi bahkan menghilangkan motivasi para dosen untuk menyampaikan ilmu kepada para mahasiswa. Hal tersebut terlihat, dari laporan para dosen di grup Whatsapp dosen setelah mereka melakukan pembelajaran daring. Sesungguhnya ada beberapa dosen yang sudah sepuh (berumur) tapi mereka tetap bisa mengikuti pembelajaran daring. Hal tersebut yang perlu saya dan kita apresiasi," terangnya kepada kru Terma via WhatsApp.
UAS online ini, lanjutnya, sekaligus menguji kejujuran dan keseriusan mahasiswa, terutama dalam menjalankan ujian secara objektif. Sekurang-kurangnya dalam menggunakan waktu yang diberikan. Tapi untuk antisipasi subjektifitas UAS, dia yakin para dosen mempunyai trik-trik tersendiri.
"Intinya, para pimpinan, pejabat serta dosen dalam antisipasi penyebaran virus dan berkurangnya kualitas perkuliahan sudah berusaha maksimal agar mahasiswa di masa pandemi ini tetap memperoleh hak-haknya,” tandasnya.
Terlepas adanya pro dan kontra tentang akan dilaksanakannya UAS secara online. Tentunya baik online maupun offline, kunci suksesnya adalah belajar. Dari pihak kampus menjelaskan bahwa mereka sudah berusaha maksimal memberikan hak-hak mahasiswa. Namun, kendala pada jaringan internet yang dialami sebagian mahasiswa juga tidak dapat dielakkan begitu saja. (Roziqin)

