Air Mata Harra

Air Mata Harra

KABAR TERMA
Rabu, 09 Mei 2018



CERPEN

Hasil gambar untuk gambar lukisan air mata

malam terasa sunyi bagi Harra tanpa kehadiran sang kakak Jimin dan Eunha. Harra adalah anak terakhir dari keluarga Park. Dia mempunyai sifat keras kepala, pemarah, tapi suka menyayangi orang lain. Sedangkan Eunha, dia kebalikan dari sifat  Harra. Eunha lebih pintar, peduli, ramah dan biijak mengambil keputusan. Kalau Jimin, dia cenderung tipikal yang suka memberontak, namun dia menyayangi Harra dan nenek serta kakeknya.
“Kenapa kakak belum pulang? Di rumah begitu membosankan. Andai begini, aku ikut dengan kak Eunha saja tadi...” batin Harra yang kian meradang gelisah kesepian.
“Harra! apa yang kau lakukan di atas? cepat turun bantu Eomma menyiapkan makan malam,” panggil ibunya yang teriak amat nyaring hingga membuat  Harra terperanjat sadar dari lamunannya. Mungkin Harra bukan gadis pandai seperti kedua kakaknya terutama eunha yang pandai dalam segala semua mata pelajaran. Tapi, Harra mempuyai kelebihan berbeda yang tak dimiliki kedua kakaknya. Selain itu, harra juga kurang mendapat perhatian kasih sayang kedua orang tuanya.
“Aku pulang,” ujar Eunha masuk rumah. Sesampainya di rumah, Eunha tak  mengira bahwa kedatangannya disambut begitu meriah oleh ayah, ibu, dan adiknya yang berkumpul sedang menyiapkan makan malam.   
“Eunha-ya, kemarilah ayo kita makan malam,” ajak sang ibu kepada Eunha yang baru datang. Dia menganggukkan kepala dan tersenyum membalas ajakan ibu. Harra yang melihat kedekatan itu hanya tersenyum kecut masam, sungguh betapa dekatnya eunha pada orang tuanya. Andai ada Jimin, kesedihannya ini pasti akan hilang.
Tak ada suara sedikit pun yang mengisi keluarga Park di ruang makan, hanya dentingan suara harmoni sendok dan piring yang saling bersahutan riuh. Tak ada rasa kebahagiaan yang dirasakan Harra untuk saat ini. Bahkan kebahagiaan itu hampir tak pernah ada bisa terasa terjadi, atau sulit kebahagiaan memihanya walau itu Cuma sekejap saja.
“Bu...yah...tidakkah ada kabar kak jimin?” tanya harra sedikit menunduk, dia sangat takut jika pertanyaan yang dilontarkan membuat ayah dan ibunya marah.
“Aku tidak tahu. jangan pernah bertanya dengan ibu atau ayahmu, mengerti!” Harra menitihkan air mata dengan kepala menunduk. Dia tak pernah tahu dengan jalan pikiran ibu dan ayahnya yang selalu apatis dan  menentang yang dia katakan.
                                                                   ***
Dari kejauhan Jimin terlihat asyik bermain basket dengan teman-temannya. Tanpa dia sadari ada perasaan yang mengganjal dalam dirinya, dia sangat takut jika terjadi sesuatu kepada adik tersayangnya.
“Jimin-ah kau melamun lagi?” Jin berteriak unutuk menyadarkan Jimin dari lamunannya.
“Apakah terjadi sesuatu Jimin-ah? Jika iya mungkin kau bisa menceritakannya kepada kita semua,” ucap Hoseok.
“Tidak ada kak, aku hanya lupa menaruh ponsel”.
“Bukankah aku yang meminjam ponselmu? Kan aku sudah meminta izinmu tadi.” Deg. Kenapa Jungkook yang harus memperjelas situasinya saat ini.
“Yak! Jimin-ah kau tidak bisa membohongi kita semua? Kita semua tahu jika kau sedang berbohong! Cepat ceritakan apa masalahmu!” ujar  Namjoon mencoba meyakinkan Jimin.
“Tidak ada kok kak. Aku hanya khawatir pada adikku yang di rumah.”
“Memang kau tinggal dimana Jim?” Tanya Jungkook penuh selidik. Jimin yang merasa tertekan menghela napas pasrah dan menceritakan perlahan dengan apa yang terjadi sama adiknya. Jimin merasa lega bisa berbagi ceritanya dengan teman-teman yang selalu menemani akan kebahagiaan maupun kesedihannya. Namjook mengangguk mengerti perasaan Jimin terhadap adiknya.
“Cobalah kau telepon adikmu dan jangan lupa tanyakan kabarnya. Mungkin dia sangat merindukannmu,” Jimin mendongakkan kepalanya untuk menatap Yoongi yang menepuk bahunya dan memberi kekuatan untuk Jimin
“Iya, kak.”
Mungkin dia orang terbodoh yang pernah ada selama ini. Seorang kakak mungkin bisa menjaga dan melindungi adiknya yang terlalu polos dan terlalu baik, baik dan kenapa semua itu terjadi pada adiknya dan dirinya? Apa dia pantas untuk menyalahkan takkdir? Apakah ini semua hanya ujian untuk dirinya agar dia bisa melindungi orang-orang yang dia sayangi.
Jimin tak akan pernah melupakan permintaan terakhir dari ibunya sebelum beliau meningggalkan dunia untuk selamanya. Begitu bodoh fikirnya yang tak bisa memenuhi permintaan ibunya untuk menjaga dan melindungi adik perempuannya. Dia tahu penyebab kematian ibunya, yang semua itu berawal dari kebodohan dan kerakusan ayahnya sendiri yang membuat ibunya meningggal. Apa kalian tak tahu jika jimin tidak pernah perduli atau pun tidak ingin pedui dengan baik tertuanya? Itu semua karena Eunha bukan adik dari ibu yang mengandungnya bersama dengan Harra. Menurut Jimin, Eunha adalah anak dari selingkuhan ayahnya dulu sebelum ibunya mengandung Harra.
Oleh: Made, Semester II/ PAI TARBIYAH