CERPEN

malam
terasa sunyi bagi Harra tanpa kehadiran sang kakak Jimin dan Eunha. Harra adalah
anak terakhir dari keluarga Park. Dia mempunyai sifat keras kepala, pemarah,
tapi suka menyayangi orang lain. Sedangkan Eunha, dia kebalikan dari sifat Harra. Eunha lebih pintar, peduli, ramah dan
biijak mengambil keputusan. Kalau Jimin, dia cenderung tipikal yang suka
memberontak, namun dia menyayangi Harra dan nenek serta kakeknya.
“Kenapa
kakak belum pulang? Di rumah begitu membosankan. Andai begini, aku ikut dengan
kak Eunha saja tadi...” batin Harra yang kian meradang gelisah kesepian.
“Harra!
apa yang kau lakukan di atas? cepat turun bantu Eomma menyiapkan makan malam,”
panggil ibunya yang teriak amat nyaring hingga membuat Harra terperanjat sadar dari lamunannya. Mungkin
Harra bukan gadis pandai seperti kedua kakaknya terutama eunha yang pandai
dalam segala semua mata pelajaran. Tapi, Harra mempuyai kelebihan berbeda yang
tak dimiliki kedua kakaknya. Selain itu, harra juga kurang mendapat perhatian
kasih sayang kedua orang tuanya.
“Aku
pulang,” ujar Eunha masuk rumah. Sesampainya di rumah, Eunha tak mengira bahwa kedatangannya disambut begitu
meriah oleh ayah, ibu, dan adiknya yang berkumpul sedang menyiapkan makan
malam.
“Eunha-ya,
kemarilah ayo kita makan malam,” ajak sang ibu kepada Eunha yang baru datang. Dia
menganggukkan kepala dan tersenyum membalas ajakan ibu. Harra yang melihat
kedekatan itu hanya tersenyum kecut masam, sungguh betapa dekatnya eunha pada
orang tuanya. Andai ada Jimin, kesedihannya ini pasti akan hilang.
Tak
ada suara sedikit pun yang mengisi keluarga Park di ruang makan, hanya
dentingan suara harmoni sendok dan piring yang saling bersahutan riuh. Tak ada
rasa kebahagiaan yang dirasakan Harra untuk saat ini. Bahkan kebahagiaan itu
hampir tak pernah ada bisa terasa terjadi, atau sulit kebahagiaan memihanya
walau itu Cuma sekejap saja.
“Bu...yah...tidakkah
ada kabar kak jimin?” tanya harra sedikit menunduk, dia sangat takut jika pertanyaan
yang dilontarkan membuat ayah dan ibunya marah.
“Aku
tidak tahu. jangan pernah bertanya dengan ibu atau ayahmu, mengerti!” Harra menitihkan
air mata dengan kepala menunduk. Dia tak pernah tahu dengan jalan pikiran ibu
dan ayahnya yang selalu apatis dan
menentang yang dia katakan.
***
Dari
kejauhan Jimin terlihat asyik bermain basket dengan teman-temannya. Tanpa dia
sadari ada perasaan yang mengganjal dalam dirinya, dia sangat takut jika terjadi
sesuatu kepada adik tersayangnya.
“Jimin-ah
kau melamun lagi?” Jin berteriak unutuk menyadarkan Jimin dari lamunannya.
“Apakah
terjadi sesuatu Jimin-ah? Jika iya mungkin kau bisa menceritakannya kepada kita
semua,” ucap Hoseok.
“Tidak
ada kak, aku hanya lupa menaruh ponsel”.
“Bukankah
aku yang meminjam ponselmu? Kan aku sudah meminta izinmu tadi.” Deg. Kenapa
Jungkook yang harus memperjelas situasinya saat ini.
“Yak!
Jimin-ah kau tidak bisa membohongi kita semua? Kita semua tahu jika kau sedang
berbohong! Cepat ceritakan apa masalahmu!” ujar
Namjoon mencoba meyakinkan Jimin.
“Tidak
ada kok kak. Aku hanya khawatir pada adikku yang di rumah.”
“Memang
kau tinggal dimana Jim?” Tanya Jungkook penuh selidik. Jimin yang merasa
tertekan menghela napas pasrah dan menceritakan perlahan dengan apa yang
terjadi sama adiknya. Jimin merasa lega bisa berbagi ceritanya dengan
teman-teman yang selalu menemani akan kebahagiaan maupun kesedihannya. Namjook mengangguk
mengerti perasaan Jimin terhadap adiknya.
“Cobalah
kau telepon adikmu dan jangan lupa tanyakan kabarnya. Mungkin dia sangat
merindukannmu,” Jimin mendongakkan kepalanya untuk menatap Yoongi yang menepuk bahunya
dan memberi kekuatan untuk Jimin
“Iya,
kak.”
Mungkin
dia orang terbodoh yang pernah ada selama ini. Seorang kakak mungkin bisa
menjaga dan melindungi adiknya yang terlalu polos dan terlalu baik, baik dan
kenapa semua itu terjadi pada adiknya dan dirinya? Apa dia pantas untuk
menyalahkan takkdir? Apakah ini semua hanya ujian untuk dirinya agar dia bisa
melindungi orang-orang yang dia sayangi.
Jimin
tak akan pernah melupakan permintaan terakhir dari ibunya sebelum beliau
meningggalkan dunia untuk selamanya. Begitu bodoh fikirnya yang tak bisa
memenuhi permintaan ibunya untuk menjaga dan melindungi adik perempuannya. Dia tahu
penyebab kematian ibunya, yang semua itu berawal dari kebodohan dan kerakusan
ayahnya sendiri yang membuat ibunya meningggal. Apa kalian tak tahu jika jimin
tidak pernah perduli atau pun tidak ingin pedui dengan baik tertuanya? Itu semua
karena Eunha bukan adik dari ibu yang mengandungnya bersama dengan Harra. Menurut
Jimin, Eunha adalah anak dari selingkuhan ayahnya dulu sebelum ibunya
mengandung Harra.
Oleh: Made, Semester II/ PAI TARBIYAH
